SELAMAT DATANG DAN MEMBACA DI BLOG SMK BISA

Wednesday, 10 September 2014

Komponen-komponen Elektronika

0 comments
Pengetahuan untuk mengenal satu demi satu komponen-komponen elektronika memang penting sekali sebab bila tidak, maka Anda tidak akan mungkin bisa menyusun rangkaian menurut skema dengan sempurna. Komponen-komponen elektronika dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan butuh atau tidaknya arus listrik dalam proses bekerjanya, yaitu komponen aktif dan komponen pasif.

Komponen aktif adalah komponen elektronika yang membutuhkan arus listrik agar dapat bekerja di dalam rangkaian elektronika. Yang termasuk dalam komponen aktif adalah transistor. Sedangkan, komponen pasif adalah komponen elektronika yang dapat bekerja tanpa membutuhkan arus listrik. Contoh dari komponen pasif adalah resistor, kapasitor, transformator dan dioda. Dalam rangkaian elektronika, biasanya dua jenis komponen ini digunakan bersama-sama.
Berikut ini adalah komponen-komponen elektronika yang wajib Anda kenal.

1) Resistor

Komponen ini berfungsi untuk mengatur aliran arus listrik. Misalnya, resistor dipasang seri dengan LED (Light-Emitting Diode) untuk membatasi besar arus yang melalui LED.
resistor
Resistor yang biasa kita jumpai memiliki nilai resistansi yang direpresentasikan oleh kode warna pada badan resistor. Resistor tersebut adalah seperti yang ditunjukan pada gambar.
Kode Warna Pada Resistor
Ketika melewati resistor, energi listrik diubah menjadi energi panas. Tentu saja dampak energi panas yang berlebih akan menimbulkan kerusakan pada resistor. Oleh karena itu,resistor memiliki rating daya yang merepresentasikan seberapa besar arus maksimum yang diperkenankan melewati resistor. Rating daya resistor yang banyak digunakan adalah ¼ Watt atau ½ Watt. Resistor tersebut adalah resistor dengan label kode warna yang banyak di pasaran. Selain itu, ada pula resistor dengan rating tegangan 5 Watt atau lebih besar. Untuk resistor jenis ini nilai resistansi dan rating tegangannya dapat dibaca secara langsung di badan resistornya.

2) Kapasitor

Kapasitor adalah komponen yang bekerja dengan menyimpan muatan. Aplikasi kapasitor diantaranya digunakan sebagai filter pada rangkaian penyearah tegangan. Ada dua tipe kapasitor, yaitu polar dan nonpolar/ bipolar. Perbedaan dari keduanya adalah pada ketentuan pemasangan kaki-kakinya. Polaritas pada kapasitor polar dapat diketahui melalui label polaritas (negatif atau positif) kaki kapasitornya atau panjang-pendek kaki-kakinya. Pemasangan kapasitor polar ini harus sesuai dengan polaritasnya. Sementara, untuk pemasangan kapasitor nonpolar, tidak ada ketentuan pemasangan polaritas kaki-kakinya karena itu pula pada kapasitor nonpolar tidak ada label polaritasnya.
Kode Angka Dan Huruf Pada Kapasitor
Desain kapasitor, baik polar maupun nonpolar, ada dua bentuk, yaitu aksial dan radial. Contoh bentuk kapasitor aksial dan radial ditunjukan pada gambar (perhatikan posisi kaki-kakinya). komponen-komponen elektronika - kapasitor

Kapasitor Polar

Kapasitor elektrolit dan kapasitor tantalum adalah contoh jenis kapasitor polar. Rating tegangan kedua kapasitor tersebut rendah, yaitu 6.3 Volt – 35 Volt. Pada badan kapasitor tersebut tercetak label polaritas yang menunjukan polaritas kaki komponen yang sejajar dengan label polaritas tersebut.
Kapasitor Polar
Kapasitor Polar

Kapasitor Nonpolar

Kapasitor nonpolar memiliki rating tegangan paling kecil 50 Volt. Kapasitor nonpolar yang banyak digunakan biasanya memiliki rating tegangan 250 Volt atau lebih. Nilai kapasitansi kapasitor nonpolar yang tercetak pada label berupa kode angka atau kode warna.
Kapasitor Non Polar
Kapasitor Non Polar

Kapasitor Variabel

Kapasitor jenis ini biasanya digunakan di dalam rangkaian tuning radio. Nilai kapasitansinya relatif kecil, biasanya diantara 100pF dan 500pF.
Kapasitor Variabel
Kapasitor Variabel

Kapasitor Trimmer

Kapasitor trimmer adalah ukuran mini dari kapasitor variabel. Kapasitor ini didesain untuk dapat dipasangkan langsung pada PCB dan untuk diatur nilainya
hanya pada saat pembuatan rangkaian. Nilai kapasitansi kapasitor ini biasanya kurang dari 100pF. Di dalam rentang nilai kapasitansinya, kapasitor trimmer memiliki nilai minimum yang lebih besar dari nol.
Kapasitor Trimmer
Kapasitor Trimmer

3) Induktor

Pada rangkaian DC, induktor dapat digunakan untuk memperoleh tegangan DC yang konstan terhadap fluktuasi arus. Pada rangkai AC, induktor dapat meredam fluktuasi arus yang tidak diinginkan.
Ada jenis induktor yang desain fisiknya mirip dengan resistor. Nilai induktansinya dinyatakan dengan kode warna. Induktor jenis ini ditunjukan oleh gambar.
Induktor
Induktor Dengan Kode Warna
Membaca kode warna pada induktor sama dengan membaca kode warna pada resistor dan kapasitor:
1.  warna pertama: angka pertama nilai induktansi
2.  warna kedua: angka kedua nilai induktansi
3.  warna ketiga: faktor pengali (pangkat dari sepuluh) dengan satuan µH
4.  warna keempat: toleransi
Induktor memiliki rating arus tertemtu. Dalam suatu rangkaian biasanya digunakan stress ratio 60%.

4) Dioda

Komponen ini berfungsi untuk membuat arus listrik mengalir pada satu arah saja. Arah arus tersebut ditunjukan oleh arah tanda panah pada simbol dioda. Seperti halnya orang yang mengeluarkan energi untuk membuka pintu dan melaluinya, listrik juga mengeluarkan energi saat melalui dioda. Tegangan listrik akan berkurang sekitar 0.7 Volt saat arus listrik melewati dioda (yang terbuat dari silikon). Tegangan sebesar 0.7 Volt ini disebut forward voltage drop.
Jenis Dioda dapat dibedakan menjadi:

Dioda Signal

Dioda jenis ini digunakan untuk meneruskan arus dengan nilai arus kecil, yaitu hingga 100mA. Contoh dioda jenis ini adalah dioda 1N4148 yang terbuat dari bahan silikon.
Dioda Signal
Dioda Signal

Dioda Rectifier

Dioda jenis ini digunakan dalam rangkaian Power Supply. Dioda tersebut berfungsi untuk mengubah arus bolak-balik ke arus searah. Rating maksimum arus yang dapat dilewatkan samadengan 1A atau lebih besar dan maximum reverse voltage samadengan 50V atau lebih besar.
Dioda Rectifier
Dioda Rectifier

Dioda Zener

Dioda ini digunakan untuk memperoleh tegangan (dioda zener) yang tetap ketika reverse voltage  sudah berada di daerah breakdown. Ketika  reverse voltage, meski nilainya berubah-ubah, asalkan berada di daerah breakdown maka tegangan dioda zener tersebut akan tetap.
Dioda Zener
Dioda Zener

5) Transistor

Komponen ini berfungsi sebagai penguat arus. Karena besar arus yang dikuatkan dapat diubah ke dalam bentuk tegangan, maka dapat dikatakan juga bahwa transistor dapat menguatkan tegangan.  Selain itu, transistor juga dapat berfungsi sebagai switch elektronik.
Ada dua jenis transistor, yaitu NPN dan PNP. Simbol kedua jenis transistor tersebut ditunjukan oleh gambar.
Transistor NPN dan PNP
Transistor NPN dan PNP
Transistor memiliki tiga kaki yang masing-masing harus dipasang secara tepat. Kesalahan pemasangan kaki-kaki transistor akan dapat merusakan transistor secara langsung. Perlu dicatat bahwa pada badan transistor tidak ada label yang menunjukan bahwa kaki transistor tersebut adalah B, C atau E. Dengan demikian, sebelum memasang sebuah transistor, pastikan dimana kaki B, C dan E dengan membaca datasheet-nya. Di dalam penggunaannya harus pula diperhatikan dua rating: daya disipasi kolektor, yaitu VCE x IC, dan breakdown voltage, yaitu VBE reverse.

6) Transformator

Transformator disingkat dengan Trafo. Trafo terdiri dari dua buah lilitan yaitu lilitan primer dan lilitan skunder. Trafo bekerja berdasarkan sistem perubahan gaya medan listrik, yang dapat digunakan untuk menaikan atau menurunkan tegangan listrik AC.
transformator
Trafo

7) Relay

Relay adalah saklar (switch) elektrik yang bekerja berdasarkan medan magnet. Relay terdiri dari suatu lilitan dan switch mekanik. Switch mekanik akan bergerak jika ada arus listrik yang mengalir melalui lilitan. Susunan kontak pada relay adalah:
Normally Open : Relay akan menutup bila dialiri arus listrik.
Normally Close : Relay akan membuka bila dialiri arus listrik.
Changeover  : Relay ini memiliki kontak tengah yang akan melepaskan diri dan membuat kontak lainnya berhubungan.
relay
Relay

8) Thyristor

Komponen ini disebut juga dengan SCR ( Silicon Controlled Rectifier) dan banyak digunakan sebagai saklar elektronik. Gambar diskrit dan simbol SCR ditunjukkan dengan gambar dibawah ini :
thyristor
SCR
Thyristor ini akan bekerja atau menghantar arus listrik dari anoda ke katoda jika pada kaki gate diberi arus kearah katoda, karenanya kaki gate harus diberi tegangan positif terhadap katoda.
Pemberian tegangan ini akan menyulut thyristor, dan ketika tersulut thyristor akan tetap menghantar. SCR akan terputus jika arus yang melalui anoda ke katoda menjadi kecil atau gate pada SCR terhubung dengan ground.

9) Tranducer

Tranducer adalah pengoperasian kerja suatu rangkaian yang lebih mudah diukur atau dikendalikan oleh besaran listrik, yaitu tegangan dan arus dimana terjadi perubahan dari suatu besaran ke besaran lainnya.
Adapun komponen elektronika yang termasuk ke dalam tranducer ialah :

LDR (Light Dependent Resistance)

Yaitu resistor yang dapat berubah-ubah nilai resistansinya jika permukaannya terkena cahaya. Kondisinya ialah jika terkena cahaya nilai resistansinya kecil,sedangkan jika tidak terkena cahaya (kondisi gelap) maka nilai resistansinya besar.
tranducer ldr
LDR

NTC (Negative Temperature Coeffisient)

Yaitu resistor yang nilai resistansinya dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan temperatur terhadapnya. Jika temperaturnya makin tinggi maka nilai resistansinya kecil dan sebaliknya bila temperaturnya makin rendah maka nilai resistansinya semakin besar.
tranducer ntc
Simbol NTC

PTC (Positive Temperature Coeffisient)

Yaitu resistor yang nilai resistansinya dapat berubah-ubah sesuai dengan temperatur terhadapnya. Jika temperaturnya makin tinggi maka nilai resistansinya semakin besar sedangkan bila temperaturnya makin rendah maka
nilai resistansinya pun semakin kecil.
tranducer ptc
Simbol PTC

Penutup Pembahasan Komponen-Komponen Elektronika

Demikianlah pembahasan mengenai komponen-komponen elektronika yang wajib Anda ketahui. Semua komponen ini merupakan bagian penting dalam suatu rangkaian elektronika yang saling berkaitan satu sama lain. Semoga bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan.

Komponen Dasar Elektronika

0 comments
Sebelum Anda memulai belajar elektronika dan mulai mencoba merangkainya menjadi suatu rangkaian jadi yang dapat berfungsi, terlebih dahulu harus mengenal beberapa komponen dasar.  Komponen dasar yang sering dipakai  biasanya terdiri dari :
  • Resistor
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon. Dari hukum Ohms diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol  Ω(Omega).
Untuk menyatakan resistansi sebaiknya disertakan batas kemampuan dayanya. Berbagai macam resistor dibuat dari bahan yang berbeda dengan sifat-sifat yang berbeda. Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada  suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt. Semakin besar ukuran fisik suatu resistor  bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung di badannya, misalnya 100Ω5W.
  • Kapasitor
Kapasitor ialah komponen dasar elektronika yang mempunyai kemampuan menyimpan electron-elektron selama waktu yang tidak tertentu. Kapasitor berbeda dengan akumulator dalam menyimpan muatan listrik terutama tidak terjadi perubahan kimia pada bahan kapasitor,  besarnya kapasitansi dari sebuah kapasitor dinyatakan dalam farad. Pengertian lain kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan dan melepaskan muatan listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik.
Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi.  Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutub negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutub positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan elektrik ini “tersimpan” selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatan-muatan positif dan negatif di awan. Kemampuan untuk menyimpan muatan listrik pada kapasitor disebut dengan kapasitansi atau kapasitas.
  • Induktor
Induktor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan sebagai beban induktif. Nilai induktansi sebuah induktor dinyatakan dalam satuan Henry. 1 Henry= 1000 mH (miliHenry). Induktor yang ideal terdiri dari kawat yang dililit, tanpa adanya nilai resistansi. Sifat-sifat elektrik dari sebuah induktor ditentukan oleh panjangnya induktor, diameter induktor, jumlah lilitan dan bahan yang mengelilinginya. Induktor dapat disamakan dengan kondensator, karena induktor dapat dipakai sebagai penampung energi listrik.

Di dalam induktor disimpan energi, bila ada arus yang mengalir melalui induktor itu. Energi itu disimpan dalam bentuk medan magnit. Bila arusnya bertambah, banyaknya energi yang disimpan meningkat pula. Bila arusnya berkurang, maka induktor itu mengeluarkan energi.
  • Transformator
Transformator (trafo) ialah komponen dasar elektronika yang berfungsi memindahkan tenaga (daya) listrik dari input ke output atau dari sisi primer ke sisi sekunder. Pemindahan daya listrik dari primer ke sekunder disertai dengan perubahan tegangan baik naik maupun turun.
Ada dua jenis trafo yaitu trafo penaik tegangan (stepup transformer) dan trafo penurun tegangan (stepdown transformer). Jika tegangan primer lebih kecil dari tegangan sekunder, maka dinamakan trafo stepup. Tetapi jika tegangan primer lebih besar dari tegangan sekunder, maka dinamakan trafo stepdown.

Pada setiap trafo mempunyai input yang dinamai gulungan primer dan output yang dinamai gulungan sekunder. Trafo mempunyai inti besi untuk frekuensi rendah dan inti ferrit untuk frekuensi tinggi atau ada juga yang tidak mempunyai inti (intinya udara).

Elektronika Dasar

0 comments
Rangkaian Paralel merupakan sebuah rangkaian listrik yang disusun dengan tidak sebaris, dimana input untuk setiap komponen semuanya adalah dari sumber yg sama. Inilah yang menjadi alasan mengapa rangkaian ini menjadi lebih mahal bila dibanding dgn rangkaian seri.
Namun dibalik kekurangannya itu, rangkaian ini juga mempunyai kelebihan jika dibanding dengan rangkaian  seri tersebut. Kelebihannya adalah apabila ada komponen yang rusak ataupun dicabut, maka komponen lainnya yang masih baik atau masih terpasang akan tetap berfungsi tanpa gangguan sama sekali. Rangkaian paralel dan rangkaian seri dapat digabung sehingga menjadi rangkaian yang disebut dengan seri-paralel.
Di rangkaian paralel, aliran listrik dari power suply bisa berjalan ke tiap-tiap lampu yang ada. Dalam beberapa rangkaian terdapat jalan-jalan yang berbeda tetapi tetap bisa dialiri arus listrik, rangkaian ini juga disebut dengan rangka ian paralel.
Rangkaian Paralel
Pada gambar rangkaian paralel diatas, kita bisa melihat dua buah resistor yang susunannya adalah paralel. Setiap ujung dari kedua resistor tersebut secara langsung berhubungan  dengan sumber tegangan secara bersamaan. Dengan demikian arus listrik dapat mengalir melalui dua jalan berbeda hingga mencapai setiap resistor yang ada.
Resistensi total dalam suatu rangkaian paralel adalah sama jumlahnya dengan kebalikan dari tiap resistansi. Hambatan tersebut jumlahnya lebih kecil dibanding dengan hambatan setiap resistor pada ke-3 resitor yg telah dihubungkan secara paralel di rangkaian itu. Besar dari hambatan pengganti akan berkurang karena ditempatkannya dua ataupun lebih resistor di rangkai an paralel.
Hambatan paralel itu akan menurun sebab tiap-tiap resistor yang baru juga akan menambah jalur arus yang baru, serta menaikkan jumlah arus yang beda potensialnya tidaklah berubah. Yang pertama kali kita harus ketahui sebelum menghitung suatu hambatan pengganti di rangkai an paralel adalah total arus yg mengaliri cabang.
Misalkan saja kita contohkan pada lampu lalu lintas yang merupakan rangkaian listrik paralel. Prinsip kerja dari rangkaian listrik paralel di sebuah lampu lalu lintas adalah terdapatnya tiga buah lampu yg saling terhubung secara paralel antara satu buah lampu dengan lampu lainnya. Darisini dapat kita simpulkan bahwa rangkaian listrik paralel dapat disebut juga dengan rangkaian bederet, yaitu terjadi pembagian beban yang sama antara satu lampu dengan lampu yang lain dalam jajarannya tersebut. Demikian sobat artikel rangkaian paralel kali ini.

Rangkaian Pemancar TV Sederhana

0 comments
Rangkaian Pemancar TV ini menggunakan standar 1 modulasi FM untuk suara dan PAL untuk modulasi video. Sinyal audio akan dimodulasi pra-penguat menggunakan transistor Q1 dan komponen terkait. Transistor Q2 memiliki dua pekerjaan: memproduksi dan memodulasi frekuensi pembawa. Sinyal audio pra-penguat diumpankan ke basis transistor Q2 untuk modulasi. Kapasitor C5 dan L1 induktor bentuk rangkaian tangki yang bertanggung jawab untuk memproduksi frekuensi pembawa. Sinyal video diumpankan ke emitor dari transistor Q2 melalui POT R7 untuk modulasi. Sinyal komposit termodulasi (audio + video) dipancarkan oleh A1 antena.
Rangkaian Pemancar TV Sederhana
Daftar Komponen :
R1 = R2 = 10KOhm 47KOhm R3 = R4 = 15KOhm 8.2KOhm R5 = 47KOhmR6 = R7 = 47KOhm 1Kohm variabel resistor R8 = 75ohm kapasitor C1 = 10uF/25Volt electrolik C2 = 0.001uf/10nF kapasitor keramik 100nF C3 = C4 = 10nF C5 = 47pF (kapasitor variabel) C6 = 10nF C7 = C8 = 10pF 27pF C9 = C10 = 100nF 470uF C11 = 10nF C12 = Q1 = BC547 220uF/25Volt NPN transistor Q2 = BC547 transistor NPN
T1 = T1 dapat sebuah transformator frekuensi radio dengan dibangun di kapasitor. (Dapat ditemukan di papan radio transistor tua).
L1 = 4 putaran dari kawat tembaga 24SWG berenamel pada dialog 6mm: mantan plastik.
L1 induktor dapat dibuat dengan membuat 4 putaran dari kawat tembaga 24SWG berenamel pada diameter 6mm: plastik bekas. T1 dapat menjadi frekuensi radio transformator dengan dibangun di kapasitor. (Dapat ditemukan di papan radio transistor tua). Antena A1 bisa dari kawat tembaga panjang 1M (Percobaan dengan panjang untuk mendapatkan kinerja yang optimal). Pemancar ini bekerja di band VHF antara 50 – 210MHz. Rangkaian pemancar TV sederhana ini hanya kompatibel dengan PAL B dan PAL G sistem.

Rangkaian Flip Flop

0 comments
Rangkaian Flip Flop merupakan rangkaian yg memakai trigger, karenanya akan menghasilkan angka logic berupa 1 dan 0 disaat keluarnya. Keadaan ini terjadi karena pengaruh apabila keduanya ataupun salah satu dari angka tersebut dimasukkan. Kapasiatasnya sendiri adalah satu bit. Namun hal ini hanya berlaku apabila salah satu dr daya mereka masing terhubung ataupun terpasang.
Rangkaian Flip Flop bila dibandingkan dengan fungsi dari gerbang logic dasar serta kombinasi adalah sangat jauh berbeda. Penyebabnya adalah karena keluaran dr flip flop itu sering menggantung di keadaan awal. Keadaan ini dapat juga bisa menjadikan keluarannya menjadi kondisi memory atau tidak berubah keluarannya. Nah inilah yang menjadi penyebab kenapa flip flop itu lebih sering dipakai untuk elemen memori.
Rangkaian Flip Flop
Prinsip kerja dari rangkaian flip flop dibandingkan dengan prinsip dari kerja transistor sebagai saklar adalah sama, yaitu apabila rangkaiannya diberi tegangan maka salah-satu dr kondisi transistornya menjadi hidup. Keadaan ini pula memiliki ketergantungan kepada kapasitor yang memiliki ketinggian muatan yang lebih jika dibandingkan dengan komponen lainnya. Bila lebih diperinci lagi, sebuah kapasitor yang ketinggian muatannya lebih akan menyebabkan lepasnya muatan listrik lebih dulu kemudian terjadi hubungan antara kaki transistor dengan kapasitor yg kondisinya sedang on.
Untuk merubah memory yg ada pada flip flop, kita harus memberikan clock pd masukan-nya. Rangkaian dasar yg berupa latch lah yang sebenarnya menjadi penyusun flip flop.  Untuk jenis latch yg digunakan adalah memakai jenis latch – RS. Jenis latch tersebut digunakan karena bisa dibentuk dr gerbang logic NOR dan NAND. Berbeda dengan fungsi awalnya yg sangat tergantung dengan kondisi tertentu. Keadaan ini juga yg mengakibatkan tidak berubahnya keluaran.
Apabila latch di kedua kaki memiliki logic 0, akan menyebabkan keluaran flip flop nggak akan berubah atau sama seperti pada keadaan semula. Sebaliknya bila latch itu memiliki logic 1, akan menyebabkan keluaranna dari flip flop menjadi tidak bisa kita tentukan. Penyebabnya adalah keadaannya yang tidak tergantung dengan komponen lain-lainnya. Flip Flop – RS sendiri dibangun dr gerbang logic AND yg saling dihubungkan secara silang.
Semua transistor yg keadaannya masih on menjadikan kapasitor tersambung dgn kaki kolektron dan akhirnya diisi dengan muatan. Namun bila hanya salah satu transistor saja yang on, maka transistor lainnya akan menjadi off. Reaksi tersebut akan terus menerus terjadi dengan berganti-gantian yang menyebabkan aliran lampu yang menyala, yang kita sebut sebagai rangkaian flip flop.

Monday, 18 February 2013

Power Supply

0 comments

  • Power Supply

Untuk gambar rangkaian pada bagian power supply (Power Section) diatas terdapat kelemahan yang cukup fatal dalam dunia audio. Di bagian yang sebelah mana hayoo? Yup benar sekali kelemahannya adalah pembagian tegangan dengan menggunakan 2 (dua) resistor R1+ dan R1- yang jika kedua resistor tersebut tidak identik maka tegangan yang keluar Vo+ dan Vo- tidak akan seimbang sehingga menyebabkan suara menjadi sember (untuk op-amp tertentu, tergantung voltage swingnya). Hal ini juga dapat menyebabkan naiknya DC offset
#susah sekali menulis rumus matematika di wordpress ini, lain kali akan saya buatkan pembuktian secara matematisnya  :P
Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut diatas adalah dengan membuat sebuah Rangkaian Virtual Ground, dapat dilihat disini.
Saya hanya dapat menemukan Transistor TLE2426 untuk dijadikan sebagai Virtual Ground, sehingga pada power supply akan menjadi seperti ini:






Berikut adalah gambaran kaki TLE2426 pada datasheetnya:

Pemasangan TLE2426 (transistor) pada rangkaian dapat dilihat pada gambar berikut:

Komponen:

  • Op-amp OPA2134
  • Resistor Takman (Carbon) 1/2 watt
  • Potensio ALPS 10K – 50K Ohm
  • C1 = 220 uF/16V Elna Cerafine
  • C2 = 0,1 uF Wima
  • TLE2426 (bentuknya dapat berupa DIP/Transistor)
  • C input min 1 uF (kalau bisa cari yang berbahan Polypropylene)
Berikut adalah hasil Chumoy yang saya buat dengan menggunakan C input 4,7uF merk Nichicon Muse:

Suaranya ternyata melebihi ekspektasi saya, lumayan bagus untuk amplifier dengan budget sekitar 300 ribu :D
High, Low, Vocal dan instrument hampir dapat dihasilkan dengan baik, ada beberapa hal yang kurang seperti soundstage yang kurang lebar, hentakan drum yang kurang akurat, high yang kurang cring atau vocal yang masih kurang sweet….
Mungkin hal ini disebabkan juga oleh socket input dan output yang masih menggunakan merk abal-abal :P
UPDATE:
Akhirnya karena penasaran saya mencoba mengganti C input dengan merk Audiophiler (bahan Polypropylene) dengan nilai 3,3 uF:
Rangkaian kemudian menjadi seperti berikut (besar juga ini caps warna kuning lol):

Pada gambar ada penampakan sebuah DC power supply 12 V yang rencana akan saya gunakan ketika tidak dalam kondisi mobile, tetapi ternyata menggunakannya membuat Chumoy mengeluarkan suara dengung yang sangat mengganggu :sigh
Impresi suara setelah diganti C input:
WOW, itu yang pertama kali saya ucapkan….
Bagaimana tidak, rasanya seperti mendengarkan sebuah lagu baru pada tiap track yang saya putar, semua kelemahan yang sebelumnya saya sebutkan hampir tidak ada atau berkurang jauh. Kalau tidak percaya bisa dicoba audisi saja :D
Tidak terasa udah pagi, saatnya saya undur diri….
Semoga bermanfaat

ww.dikmenjur.net

Cara Merakit Amplifier 800watt

3 comments

Merakit Power Amplifier 800 watt streo

Bahan yang disiapkan :
1. Travo 20 A 48 volt jenis CT
2. 2 buah Power Amp 800 watt mono(kalo powernya setereo beli satu aja)
3. 1 buah tune kontrol yang + sama vol
3. Box / casing plus isinya
4. Dioada 20 A,4 biji
5. 4-6 buah Elco 50 volt 10000 uf
6. 4 buah Keramik

Untuk pembuatan power supply kita menggunakan 3 kabel, misalnya kabel A disambungkan ke pin travo yang bertulis CT, kabel B ke 48V, dan kabel C ke 48V. Setelah itu Siapkan 4 buah elco, contohnya elco W, elco X, elco Y, elco Z. Kaki elco (+) W dan X satukan menjadi titik ( WX +). Kaki elco (-) Y dan Z satukan menjadi titik ( YZ -). Sekarang masuk tahap berikutnya, sisa kaki elco yang (+) dan (-) satukan dan kita sebut titik ( Q ). Sampai disini periksa dulu hasil kerjanya, takut ada yang salah, bisa-bisa nanti meledak.

Ok kita lanjut lagi, kabel A sambung ke titik Q, kita sebut sebagai arus CT, untuk mempermudah perakitan. Kabel B sambung ke kaki dioda berlambang ~ dan yang berlambang + sambung ke titik ( WX+), kita sebut arus (+48 volt). Kabel C sambung ke kaki dioda berlambang ~ dan yang berlambang + sambung ke titik ( YZ - ), kita sebut arus ( -48 volt ). Jadi power supply yang dibuat menghasilkan 3 kabel yaitu kabel arus CT, +48 volt, -48 volt. Kita gunakan kabel CT warna kuning, kabel +48 volt warna merah, kabel -48 volt warna hitam. Sekarang tinggal sambung ke power amp, sesuai dengan tulisan yang ada di papan pcb power amp.

Perkiraan biaya perakitan Rp 2000000 untuk power amp, untuk equaliser beli yang sudah jadi sekitar Rp 700000. Untuk speaker beli yang sudah jadi atau buat sendiri, itu terserah yang pasti kapasitas max speker kiri dan kanan 1000 watt.